Sinar Mas Group Akan Melakukan Survei di Arso (selesai)

Setelah bertemu dengan Sesmen dan Komisaris PTP N 2 Arso, Komisi B DPRP dan perwakilan petani sawit Arso bertemu dengan Project Direktur Aan Selamat, CEO project Papua Tony L, HRD David T di lantai 34 gedung Bank Internasional Indonsia. Sebelum bertemu dengan manajemen SMG, Komisi B DPRP bertemu dengan menajemen PT. Freeport di Plaza 89. Lantas apa saja yang terungkap dalam pertemuan tersebut. Inilah petikan berikutnya.

Pertemuan antara komisi B DPRP, perwakilan petani sawit Arso dengan menajemen Sinar Mas Group waktunya sedikit molor. Sesuai dengan agenda sebelumnya pertemuan akan dilaksanakan Rabu (16/7) sekitar pukul 16.00 Wit, tetapi karena rombongan terperangkap kemacetan arus lalu lintas, sehingga rombongan baru bisa tiba di gedung BII sekitar pukul 16.45 Wit.

Kendati sedikit terlambat, kehadiran Komisi B DPRP disambut hangat oleh menajemen Sinar Mas Group. Bahkan ketua Forum dan sekretaris petani Sawit Arso menyampaikan rasa kagum atas sambutan dari Bos SMG kepada rombongan. Senyum yang diberikan Project Direktur SMG, Aan Selamat ditambah suasana ruang rapat yang begitu indah membuat pertemuan terasa begitu nyaman dan damai.

Project Direktur SMG, Aan Selamat mengaku sedih ketika mendengar informasi bahwa petani Sawit tidak bisa menikmati hasil pertaniannya. Parahnya, lagi ujar dia, persoalan yang timbul antara petani sawit selalu dipolitisir. ‘’Khan kasihan petani Sawit, masalah sawit dihubungkan dengan politik, ini khan sudah tidak benar,’’ ujar Aan saat mengawali pembicaraan setelah sebelumnya ketua Komisi B DPRP Paulus Sumino mengungkapkan hasil pertemuan Komisi B dan petani sawit Arso dengan Sesmen dan Komisaris PTP N 2 Arso.

Aan pun tidak mau gegabah setelah adanya sinyal dari Sesmen dan komisaris PTP N 2 Arso yang akan memberikan rekomendasi kepada PT SMG Lereh untuk menampung kelapa sawit Arso.’’Boleh saja, tetapi harus ada MoU atau hitam diatas putih. Jangan sampai nanti baru berjalan satu bulan, tiba-tiba mesin pabrik PTP N 2 Arso kembali beropersi, jelas yang rugi adalah kami. Dalam MoU ini nanti harus jelas sampai berapa lama waktu kerjasamannya,’’ katanya.

Namun sebelum itu terlaksana ujar Aan, pihaknya terlebih dahulu harus melakukan survei lahan sawit Arso sehingga diketahui berapa banyak yang layak dan berapa banyak layak tidak layak. Bahkan kata dia idealnya, Buah Tandan Segar (BTS) tidak bisa sampai menginap. Artinya, pagi dipetik BTS, siang atau sore hari sudah harus masuk ke Pabrik.’’Pohon yang sehat sekali seminggu harus dipetik buah sawit. Pohon-pohon yang sudah tua harus ditebangi, sedangkan pohon yang sedang berbuah harus dirawat dengan baik sehingga hasilnya baik dan layak dijual,’’ katanya sembari menambahkan akan melakukan kordinsi dengan cabang SMG di Jayapura.

Disamping itu, katanya harus dibentuk organisasi pemetik. Wadah ini sangat penting dan mutlak dibutuhkan. Wadah inilah nantinya yang melakukan setiap tahapan perencanaan, termasuk menentukan harga sesuai dengan perkembangan harga minyak dunia.’’Wadah ini yang akan menghitung harga buah sampai di pabrik sehingga masyarakat tidak dirugikan. Bahkan organisasi ini yang akan mengatur bahwa setiap hari harus ada buah yang masuk ke pabrik. Dengan demikian pemilik truck tidak dirugikan,’’ tuksanya seraya menambahkan perlu ada hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara petani sawit dengan pabrik.

Bertemu PT. Freeport

Sebelum bertemu dengan menajemen SMG, komisi B DPRP bertemu dengan senior vice presiden PT Freeport Tony Wenas didampingi Advisor August Kafiar, senior manager Bambang Susanto di ruang rapat PT Freeport Plaza 89 Jakarta, Rabu (16/7) sekitar pukul 10.00 Wib.

Kehadiran Komisi B DPRP ini untuk mengetahui sejauhmana keberpihakan PT Freeport terhadap pengusaha local di Papua. Demikian juga soal pendapatan PT. Freeport tahun 2007 lalu sebesar Rp 16 Triliun, sementara yang diterima Papua nilaianya kecil. Untuk itu, ketua Komisi B DPRP Paulus Sumino meminta kepada PT Freeport untuk menambah 30 persen dari hasil pendapatan PT. Freeport kepada pemerintah Papua.

Dalam kesempatan itu, senior vice presiden PT Freeport, Tony Wenas memaparkan berbagai program yang telah berhasil dijalankan PT. Freeport di Papua, khususnya di kabupaten Timika. Demikian juga program lain yang kini tengah berjalan. Salah satunya melibatkan LPMAK dalam mendukung dan mengembangkan program Respek Gubernur. Selain itu masih banyak program lain yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti pengembangan pola bertanam, beternak, pendidikan dan kesehatan diberikan secara gratis kepada masyarakat dan peningkatan skil tenaga kerja di Timika. Untuk mendukung program ini, pihak PT. Freeport selalu menyiapkan dana yang cukup besar, termasuk pengembangan dan peningkatan usaha kecil dan menengah (UKM).**

sumber papuapos

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: